Mengenal Soimah Pancawati yang Njawani

Sebagaimana anak yang lahir di desa pada umumnya, Soimah kecil mengalami perjalanan hidup yang tidak mudah. Berbagai rintangan hidup dilaluinya untuk sekedar bertahan terhadap himpitan ekonomi yang mendera bersama orang tuanya. Bersamaan dengan kokok ayam dini hari Soimah sudah bersiap mengantar es balok ke pasar tempat Ibunya jualan ikan segar. Lahir di Pati, Jawa Tengah 29 September 1980, Soimah mengawali pendidikan dasar dan menengah pertamanya di Pati Jawa Tengah.

Aktifitas menyanyi dan menari dilakukannya sejak kecil dengan keliling ke desa-desa. Menginjak usia remaja Ia diajak familinya pindah ke Yogyakarta dan sekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Pendidikan terakhirnya di Institut Seni Yogyakarta, tapi tidak sampai tamat. Kecintaanya pada seni tradisi, menari, nyinden, ketoprak dan lain-lainnya berlanjut ketika dia bergabung dengan Komunitas Seni Yogyakarta, seperti komunitas Ketoprak dan Jogja Hip Hop Foundation.

Lahir sebagai perempuan Jawa, Soimah ingin tampil dan dikenal dengan citra yang Njawani. Ia menggunakan kebaya dalam setiap event atau acara dimana di show. Arus moderinsasi dan pop culture yang begitu kuat diusung media cetak maupun elektronik sekarang ini tidak mudah dilaluinya. Pernah dalam suatu acara musik dimana dia harus tampil bersama dengan penyanyi lain yang tampil seksi dan bohay. Dia tidak mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Teriakan “tutun-turun dan lemparan botol” pernah dialaminya. Tapi keyakinannya yang kuat akan bisa melalui tantangan dan diterimanya dia di hati masyarakat tidak menyurutkan dia untuk berganti haluan.

Dalam sebuah rubrik harian Kompas ada yang bertanya; mbak Soimah, saya melihat anda punya kepercayaan diri yang istimewa. Tetap percaya diri memakai nama Soimah Pancawati, tetap sebagai perempuan Jawa tulen, tetap dengan cengkok sinden yang khas. Apa rahasianya? Didikan orangtua kah? Atau Perjalanan hidup? Dengan enteng dia menjawab. Semua berjalan dengan sendirinya dan melalui proses yang sangat panjang, berliku dan berdarah-darah…hehehehe. Mungkin semua orang yang sukses berkarya dalam bidang apa pun, berproses panjang akan mempunyai rasa percaya diri yang kuat dan istimewa. Jadi, rasa percaya diri saya tumbuh dan bangkit karena terpaan pengalaman hidup yang cukup berat.

Konsistensi dan kepercayaan dirinya membuahkan hasil yang mengagumkan tidak hanya dirina pribadi tapi juga masyarakat Jawa pada umumnya. Pada tahun 2011 dia bersama Jogja Hip Hop Foundation diundang ke New York USA untuk manggung. Pada tahun 2012 mendapat undangan yang sama tapi tidak bisa karena terikat kontrak. Berbagai acara musik atau budaya  televisi swasta di Indonesia pernah menampilkannya. Tiap hari kita diajak ketawa dengan lelucon dan joke-jokenya di acara Show Imahtrans.

Melihat perkembangan musik modern sekarang ini menjangkau berbagai kalangan dan strata di masyarakat, Soimah ikut prihatin terhadap perkembangan musik tradisi. Sekolah dulu tempat belajar kesenian tradisi sudah berubah menjadi sekolah kejuruan. Dibeberapa tempat juga mengalami nasib yang sama, sekolah kesenian di tingkatan SMS menjadi sekolah kejuruan dengan berbagai pilihan jurusan. Menurutnya kita tidak perlu berkecil hati dengan bergaya khas daerah atau suku tertentu, sepanjang yakin dan konsisten pasti ada jalan.

Diambil dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *