JANGAN MEMBATASI PIKIRAN ANDA

impossible is nothingSeorang sahabat yang memiliki hobi memancing suatu saat mengajak saya pergi ke suatu pantai kecil di Bali. Meskipun saya tidak suka memancing namun berbicara dan berbagi dengan sahabat saya adalah kegiatan yang menyenangkan. Ketika sedang menunggu ikan di kail kami, tiba –tiba saya dikejutkan oleh seorang bapak yang terlihat dari jauh sedang memancing dan mendapatkan seekor ikan besar, sambil teriak sang bapak meloncat berkata “ saya dapat ikan besar”. Saya menatap dan ikut senang namun keheranan saya semakin menjadi ketika bapak ini akhirnya melepaskan ikan besar tersebut ke laut. Sayapun berpikir keras, apa yang ada dalam pikiran sang bapak dalam hati saya. Tidak sempat berpikir lama, saya dikagetkan lagi dengan prilaku sang bapak yang berhasil menangkap ikan besar lagi dan ia teriak seperti tadi namun ia pun akhirnya membuang ikan besar itu lagi. Sudah dua kali ia melakukanya dalam hati saya, apakah ia akan membuang setiap ikan besar yang ia pancing, maka mata saya tertarik dengan apa yang bapak ini lakukan, ternyata apa yang saya pikirkan benar, sang bapak membuang ikan-ikan besar yang ia dapatkan, dan hanya ikan kecil yang ia akan bawa pulang.

Rasa penasaran saya semakin menjadi, saya mengajak teman saya untuk mendekati bapak tersebut dan mencari tahu apa yang sebenanarnya ia lakukan. Saya bertanya “Pak, mengapa bapak membuang semua ikan besar yang bapak dapatkan ?” kata saya. “Padahal semua pemancing mengharapkan mendapatkan ikan seperti yang bapak dapatkan” lanjut saya. Lalu sang bapak menjawab “Anak muda, di rumah saya , hanya ada istri saya yang sudah tua seperti saya, kami hanya memiliki kuali kecil yang bisa memasak ikan-ikan kecil, kalau saya membawa ikan besar, bagaimana saya bisa memasaknya, karena kualinya jauh lebih kecil daripada ukuran ikan ini” kata sang bapak dengan puas menjawabnya.

Apa yang dilakukan oleh seorang bapak tadi sering menggambarkan tentang diri kita sendiri. Masing-masing kita memiliki persepsi yang sudah terkotak-kotakkan seperti bapak tadi yang telah memiliki kuali kecil sehingga tidak bisa memasak ikan besar. Ada yang lupa dari sang bapak, bahwa meskipun kuali kecil tetap bisa memasak ikan dengan cara memotong-motongnya menjadi ikan kecil. Pikiran kita membuat batas-batas yang membuat kita tidak bisa melampauinya, kita lupa bahwa kitalah yang membuatnya. Seperti pak tua yang membuang ikan besar karena kualinya kecil. Kitapun sering membuang kesempatan dan peluang baik yang Tuhan berikan karena kita merasa tidak mampu dan belum merasa layak.

Potensi luhur yang dimiliki oleh manusia adalah pikiran itu sendiri. Seringnya kita membuat pagar (batas)an dalam pikiran kita membuat kita akhirnya terkotak-kotak oleh ketidakmampuan yang dibuat sendiri. Renungkanlah, berapa banyak kata negatif yang kita lontarkan sehari. Hampir tidak pernah kita renungkan, padahal setiap ucapan negatif yang kita lontarkan pada akhirnya memantul kepada diri kita sendiri.

Cermin hidup yang tak terlihat

“ Jangan biarkan keadaan mengontrolmu. Kamulah yang mengontrol keadaan.”

Jackie Chan, aktor laga asal Hong Kong”

Bayangkanlah di hadapan anda ada sebuah cermin besar yang selalu jujur terhadap apa yang anda lakukan. Cermin selalu memantulkan kebenaran yang utuh, kecuali jika cermin itu retak, maka kebenaranya pun akan pudar. Dalam training The7Awareness, yang mengajak semua orang untuk menjadi manusia di atas rata-rata menegaskan kepada kita bahwa di sekeliling kita ada sebuah cermin besar yang hidup namun tidak terlihat, ia selalu memantulkan apapun yang kita perbuat. Jika kita berkata negatif maka ia akan memantul kepada kita lebih banyak dari apa yang kita lakukan, sebaliknya jika kita berkata positif maka akan memantulkan kalimat positif lebih banyak dari apa yang kita bayangkan.

Kejujuran cermin adalah bacaan untuk kita. Semakin anda menjauh dari cermin hidup anda maka semakin samar anda akan melihat potret diri anda sendiri. Sebaliknya semakin dekat anda dengan cermin itu, maka semakin dekat juga anda akan melihat potret anda sendiri.

“Kehidupan selalu apa adanya, ia tidak pernah mengkhianati kita, tanpa sadar kitalah yang sering menghianati kehidupan kita sendiri”

perbarui pikiran anda dengan tanda +Jadi mereka yang senantiasa positif adalah orang-orang yang sangat beruntung dalam kehidupanya. Sebaliknya mereka yang negatif adalah orang yang merugi dalam kehidupanya. Dalam training The7Awareness anak kecil saja mendapatkan kata-kata negatif sehari lebih dari 460 kata negatif. Dan itu dikali setiap hari dikali setiap bulan dan tahun lalu usia kita hari ini. Dalam otak kita bisa jadi hanya dipenuhi oleh kata-kata dan kalimat negatif yang tiada akhir. Menurut sebuah penelitian mengatakan bahwa apa yang kita ucapkan tidak lebih dari 5 % dari apa yang kita simpan dalam otak kita. Dengan kata lain, kita bisa melihat seseorang positif atau negatif dari apa yang ia katakan.

Bahkan kata-kata negatif sering kali menjadi fitnah dan melahirkan permusuhan yang tidak ada alasan. Bahaya dari berkata negatif telah membuat kita semua sadar akan peradaban yang sering hancur oleh fitnah dan perasaan negatif antara satu dengan yang lainnya. Hal inipun digariskan oleh Al-Quran yang mengatakan :

“Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”

Jika setiap orang menyadari betul bahwa kita semua memiliki cermin hidup yang tak terlihat rasanya kita tidak pantas untuk menunjuk ke arah orang lain setiap ada kejadian baik teguran atau ujian yang Tuhan berikan. Namun kita harus menunjuk pertama sekali kepada diri kita sendiri. Masih ingatkah kita tentang sebuah filosofis telunjuk tangan, ketika kita menuding tangan kita kepada orang lain, maka 3 jari kita sebenarnya menunjuk kepada diri kita sendiri. Dan hanya ada satu jari yang menunjuk kepada orang lain.

Manusia Terjebak Dalam Perangkapnya Sendiri

“Memahami orang lain adalah kearifan, memahami diri Anda sendiri adalah pencerahan.”

Lao Tzu (600–531 SM), filsuf asal China”

Perangkap-perangkap itu bermain dalam pikiran kita sendiri. Ia mengunci semua bakat dan kekuatan kita yang tak terbatas menjadi pribadi yang terbatas. Perangkap itu terbuat dari percikan pikiran dan kata-kata negatif yang setiap hari. Mengkotak-kotakkan kita sehingga akhirnya kita menyerah. Semua manusia tanpa sadar membuat kotaknya masing-masing sesuai dirinya sendiri. Adapun penyebab mengapa kita terkurung dalam kotak pikiran adalah sebagai berikut :

Sering berpikir buruk sangka (negatif) kepada orang lain dan juga kepada diri sendiri. Inilah yang menjadi faktor utama dari perangkap manusia tercipta. Itu semua memantul kepada anda sendiri. Energi itu terasa di antara anda, seperti angin yang tidak bisa terlihat akan tetapi bisa kita rasakan dalam kehidupan kita.

Berkumpul dengan banyak orang-orang negatif. Jika anda terlalu sering berkumpul dengan orang-orang negatif, maka lama kelamaan anda juga akan terbawa sebuah budaya seperti mereka. Meskipun pada awalnya tentunya tidak, namun berkalanya waktu semuanya berubah tentang anda. Seperti halnya anda memegang tali ikan di pasar ikan. Meskipun  anda telah membuangnya masih saja aroma amis ikan tersebut masih ada di tangan anda.

Memiliki “believe system” yang salah. Keyakinan yang sudah mendarah daging, hanya saja seringnya keyakinan ini kurang tepat namun tetap kita pertahankan. Seperti believe system kita yang biasanya belum merasa kenyang kalau belum makan nasi meskipun sudah makan banyak roti dan mie. Padahal antara mie dan nasi sama-sama memiliki karbohidrat.

Terbiasa menyerah ketika masalah datang. Dalam kenyataan hidup masalah kita bukan semakin hilang akan tetapi semakin besar dan lebih besar lagi, hanya ada dua tipe orang ketika masalah datang kepadanya. Pertama adalah memilih menyerah dan yang satu lagi memilih untuk bangkit dari kondisi tersebut. Yang manakah anda ketika masalah datang kepada anda.

tertawa lepasBerharap tidak ada masalah dalam hidup. Ini harapan yang hampir dipastikan tidak akan pernah terwujud. Selama anda masih hidup di dunia ini, maka anda tidak akan bisa melepaskan diri dari  masalah anda. Masalahnya adalah apakah anda berhasil menjadikan masalah sebagai lompatan tinggi dalam perubahan hidup anda.

Belajar kepada orang-orang yang kalah. Orang-orang yang kalah atau menyerah mereka akan lebih senang berbagi kepada kita tentang kekalahannya, Kesulitan dan tekanan yang terjadi. Mereka akan lebih senang ketika anda membeli kisah penyebab kekalahannya dibandingkan tentang sisi kemenangan yang sudah ia lewati.

sumber: Majalahtim.com

Membaca peluang bisnis ONLINE full dari rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *