Suami Menurut Abu Fatiah Al Adnani

sujud aktifitas gerak terbaikSebuah broadcast BBM seorang teman mencatat  “kerelaan suami yang berbuah surga bagi istri” yang dikutip dari tulisan Abu Fatiah Al Adnani. Catatan kecil ini menggugah kesadaran saya secara pribadi bahwa prilaku saya sebagai suami masih jauh dari apa yang ditulisankan dalam broadcast ini. Maafkan anakmu wahai emak….bapak…

Pertama, seorang suami yang dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup begitu ketika dewasa dan beristri dia tinggalkan begitu saja. Dia memilih lebih mencintai istrinya yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidup. Bahkan seringkali rasa cintanya itu lebih besar terhadap istrinya daripada cintanya kepada ibunya sendiri. Dalam sebuah pengajian yang disampaikan oleh KH Anwar Zahid mengungkapkan bahwa “cintanya ibu (orang tua) ke anak itu sebesar kelapa, semantara cintanya anak ke orang tua itu cuma sebesar upo. Banyak riwayat-riwayat lain yang bisa kita teladani dari cerita hubungan anak dengan orangtua dan hubungan orang tua dengan anak. Uwais Al Qorni adalah contoh sukses bagaimana peran anak, bakti seorang anak kepada orang tua. Bagaimana dengan contoh yang tidak sukses? banyak….bahkan sebutan anak durhaka lebih sering kita dengar daripada anak yang shaleh. semoga kita bukan bagian dari yang tidak sukses…amin.

Kedua, suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung kebutuhannya oleh orang tuanya hingga ia dewasa. Namun, sebelum ia mampu membalas baktinya dia sudah berikrar untuk menafkahi istrinya, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah. Tidak seberti Ayah dan Ibunya yang punya ikatan darah terhadap dirinya. Yang ikatan itu tidak terputus oleh jarak, ruang dan waktu. Sampai kapanpun orang tua terhubung dengan anak, anak belum tentu nyambung dengan orang tua. Kita pernah dengar pepatah “sebuas-buasnya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri”. Namun sekarang sering kita dengar orang tua yang terlantar, orang tua yang tidak diakui oleh anaknya sendiri. Na’udzubillahi min dzalik…..

Ketiga, suami rela menghabiskan waktu untuk mencukupi kebutuhan anak-anak serta istrinya. Padahal dia tau, di sisi Allah itu istrinya lah yang harus lebih dihormati oleh anak-anaknya daripada dirinya. Tidak pernah sekalipun dia iri karena sebab ia mencintainya dan berharap istrinya itu mendapatkan yang lebih baik darinya di sisi Allah SWT.

Keempat, suami berusaha menutupi masalahnya dihadapan istri dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan istri terbiasa mengadukan masalahnya dengan harapan suami mampu memberi solusi. Padahal bisa saja disaat istri mengadu itu dia memiliki masalah yang lebih besar.

Kelima, suami berusaha memahami bahasa diam dan bahasa tangis istri, sedangkan istri kadang hanya mampu memahami bahasa lisannya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.

Keenam, bila istri melakukan maksiat, maka suami akan ikut menanggung dosanya. Namun bila suami melakukan maksiat, istri tidak akan ikut menanggung dosa suaminya. Apa yang diperbuat oleh suami akan dipertanggungjawabkan sendiri.

Ketujuh, suami wajib membagi penghasilan dari perasan keringatnya dengan istri dan anak-anaknya sebagai tanggungjawab pada keluarga, meskipun istri memiliki penghasilan sendiri. Sementara istri tidak berkewajiban mencari nafkah bagi keluarga.

Demikian catatan dari buku yang ditulis oleh Abu Fatiah Al Adnani, semoga bisa menambah perbendaharaan ilmu terutama bab keluarga. Trimakasih